Story: Small Work with Big Impact (Collaboration Content)

Lagiseru.com, Small Work Big Impact adalah projekan bersama yang mengawali kami untuk membuat konten yang dapat memberikan value. Yaitu nilai-nilai dan manfaat bukan hanya pada diri kami tapi juga dapat berdampak terhadap banyak orang.

Setelah melalui tahapan brainstorming bersama untuk mencari tema dan topik, kami pun memutuskan untuk membuat photo essay . Photo essay ini, kami ingin memuat ekspresi dari sosok-sosok pekerja yang berdedikasi dan berkontribusi banyak khususnya untuk kota Makassar. Karena hanya diberi waktu kurang dari 24 jam, kami mesti bergerak cepat untuk mewawancarai langsung sekaligus mengabadikan momen saat mereka bekerja. Alhasil, kami hanya berhasil menemui tiga pekerja yang masih bertugas.

Berikut respon atau ekspresi dari sosok-sosok luar biasa ini saat kami bisa bertemu untuk foto bareng sekaligus berbincang seputar aktivitasnya dalam bekerja.

Petugas Kebersihan

small work big impact 1

Seragam petugas kebersihan berwarna biru masih dikenakan Sutinah yang bersiap pulang menuju rumahnya. Kami bernasib baik bisa menemui beliau setelah tuntas membersihkan area Anjungan Losari.

“Jam  10 malam baru pulang, besok pagi mulai masuk lagi,” jelas Sutinah yang sedang melepas lelah setelah shift kedua sambil duduk ditemani oleh cucunya. Meski jarak rumahnya termasuk jauh dari tempatnya bertugas, Sutinah mesti kembali mengisi shift pertama sebentar mulai pukul 05.00 sampai pukul 09.00 pagi.

“Dikasihkan mi tempat sampah, tapi tidak dibuang di tempat sampah. Tidak ada sampah, malah minta tempat sampah” keluh Sutinah tentang kebiasaan pengunjung yang kerap mengabaikan fungsi tempat sampah. Kebiasaan pengunjung yang malas membuang sampah pada tempatnya ini menyulitkan kerjanya sebagai petugas kebersihan. “Kepeduliannya masih kurang,” tambah Sutinah.

Keresahan Sutinah berlanjut terkait dengan makanan yang susah dibersihkan, sepertinya lombo’-nya jalangkote atau pun saos yang mudah jatuh ke lantai. “Ada yang makan di sekitar terhambur-hambur sampahnya, tidak mengerti juga. Tapi tetap harus dipel.”

Terkait wilayah kerjanya, Sutinah ditempatkan bersama 1 orang kerjanya, saling bergantian pagi dan sore. “Biasa kalo shift pagi ada yang tidak masuk, saya sendirian yang menyapu,” jelas Sutinah yang kerjanya mesti membersihkan dua kali lipat kalo pada malam hari dan ketika ada acara berlangsung di sekitar tempat kerjanya.

Petugas Pemadam Kebakaran

small work big impact 2

Ditemui di kantor Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar, Abdul Fahmi menerima lawatan kami yang diantar oleh kolega regunya yang sedang piket. Obrolan dengannya dibuka seputar kondisi terkini TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Tamangapa Antang yang terbakar pada hari Minggu (14/9) pekan lalu.

“Alhamdulillah titik-titik api di bagian atas TPA mulai berkurang,” ungkap Fahmi. Ia menginfokan ada 16 unit pemadam kebakaran yang bergerak memadamkan api di TPA tersebut sampai Sabtu ini.

Fahmi pun menjelaskan bahwa pemadaman api di TPA tersebut berlangsung cukup lama karena perlu dipadamkan dengan volume air yang lebih besar. Ditambah lagi di bagian bawahnya mengandung gas metan. “Jadi kalau mau dipadamkan apinya mesti pake sistem penggabungan nozzle tanam dan jet foam atau busa”.

Ketenangan menjadi kiat penting seorang petugas damkar menurut Fahmi dalam menghadapi situasi kepanikan dan kemarahan di TKP.  Warga selalu mendesak pemadam mesti segera datang. “Padahal pemadam di mana-mana pasti terlambat ke TKP, karena sudah terbakar baru ditelepon” jelasnya. Sambil menyampaikan juga cara yang dilakukan pemadam kebakaran dalam menghadapi telepon nakal atau laporan palsu.

Sedangkan untuk sistem bekerja sebagai pemadam kebakaran, Fami menjelaskan bahwa pemadam standby 1 x 24 jam, dengan libur 2 hari di tiap pekannya. “Tetapi di hari kedua libur itu tetap standby panggilan tugas, dinamakan peleton cadangan.”

Petugas Keamanan

small work big impact

“Harus dinikmati memang,”menurut Abdullah yang menempuh perjalanan dari rumahnya di Maros untuk bertugas menjaga keamanan Hotel Melia Makassar. Kami menemui beliau sebelum menuntaskan 12 jam kerja pada hari Sabtu malam yang dimulai sejak pukul 08.00 pagi.

“2 hari shift malam, 2 hari shift pagi, selebihnya bisa libur 2 hari, baku atur mami,” ungkap  Abdullah terkait mengatur jadwal menjaganya dengan rekan kerjanya.

Berawal dari sistem outsourcing yang dipegang vendor setelah 1 tahun, Abdullah sekarang bekerja langsung di bawah naungan manajemen hotel. “banyak potongannya dulu, outsourcing toh,”jelasnya terkait upah yang biasa diterima dulu.

Melalui beragam ekspresi dan kisah yang terangkum dalam foto cerita ini. Kami takjub dengan semangat rela berkorban, bekerja keras dan pantang mundur dari masing-masing pekerja. Ekspresi mereka dalam foto serta respon mereka terhadap pekerjannya di atas menjadi secercah makna sebuah dedikasi yang patut diapresiasi bersama, apapun profesinya.

Mudah-mudahan photo essay ini bisa menjadi rekam jejak yang inspiratif dalam merawat ingatan dan menjadi penanda zaman tentang kota Makassar.

Maka dari itu project ini kami beri judul Small Work Big Impact yang berasal dari konten kolaborasi Kelompok 2 NARASI Content Creator Workshop – Makassar yaitu Sidiq Saputra, Muh. Mughits Mumtaz, Ekha Nurul H., Yuli Asri Aristia Putri, Fajar Anzari dan Achmad Nirwan Ruslan yang pertama kali dipresentasikan 21 September 2019 lalu.

Source:

Modest Work with Big Impact: Dedikasi, Kontribusi, dan Ekspresi (Photo Essay)

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Fajar Anzari (@fajaranzari) pada

 

 

Sebut saja Admin

hanya seorang yang suka diajak ngobrol tapi gak suka minum kopi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *