Vapor, Alternatif Rokok yang Lebih Aman?

Selain rokok tembakau, Vapor atau vape sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang cukup melekat terutama pada anak-anak muda. Banyak mengira bahwa vape atau rokok elektrik adalah alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok tembakau yang punya bahaya cukup jelas.

Hasil survei The Global Youth Tobacco Survey Indonesia (GYTS) tahun 2014 menyatakan bahwa 88,2% anak sekolah ingin berhenti merokok. 24% di antaranya pernah mendapatkan pertolongan/nasihat dari tenaga profesional untuk berhenti merokok. Data Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3) juga menyatakan bahwa hanya 5% dari mereka yang ingin berhenti merokok yang berhasil berhenti merokok. Penyebab utama kegagalan berhenti merokok salah satunya adalah ketidaktahuan masyarakat mengenai cara untuk berhenti merokok.

Selain mendapatkan pertolongan oleh tenaga profesional, salah satu cara agar kamu dapat menghentikan kebiasaan merokok dengan menggunakan vape. Vape atau vapor adalah alat yang digunakan untuk mendapatkan pengalaman mirip merokok yang memproduksi aerosol tanpa menggunakan tar dan bahan kimia lainnya yang berada pada rokok.

vapor alternatif rokok

“Apakah vapor merupakan alternatif yang lebih aman?”

Fakta mengatakan banyak forum di seluruh dunia mengklaim banyaknya orang berhenti merokok dengan transisi ke vaping.  Dikarenakan vaping tidak melibatkan pembakaran tembakau yang melibatkan 69 bahan kimia berbahaya. Melainkan mengubah cairan menjadi aerosol bahan yang seringkali kamu temukan di makanan dan obat-obatan.

Terlepas dari fakta yang di atas vaping tidak sepenuhnya menjamin mengurangi resiko kerusakan terhadap paru-paru dan jantung. Perlu kamu ingat bahwa vape diciptakan pada tahun 1963 namun baru di kenal pada tahun 2001. Saat ini belum ada yang menyatakan efek jangka panjang untuk vaping. Untuk sekarang vape dianggap sebagai alat yang berpotensi dapat membantu karena resiko kesehatan yang jauh lebih rendah dari rokok.

Salah satu faktor yang perlu di pertimbangkan dengan penggunaan vape mungkin adalah pemikirannya. Dimana masyarakat cenderung tidak bersedia berfikir terbuka mengenai vape, karena vape dianggap sama dengan merokok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *