Peristiwa ‘Keraton Agung Sejagat’ dan Memahami Sejarah

Di awal tahun 2020 kita digegerkan dengan peristiwa unik. Perisitwa dideklarasikannya kerajaan baru yang bernama “Keraton Agung Sejagat (KAS)” di Desa Pogung, Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Di zaman modern ini agak ganjil rasanya mendengar sebuah kerajaan berdiri. Dengan mengklaim dirinya hadir untuk menjaga perdamaian dunia dan membentuk kekaisaran dunia di negara berdaulat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam melihat perisitiwa KAS itu, kita seakan dipaksa kembali menilik sejarah kerajaan-kerajaan nusantara yang dulunya sering kita temui di buku-buku pelajaran sejarah Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Karena menurut pengakuan Sang ‘Raja’ KAS yang bernama lengkap Toto Santoso mengatakan KAS merupakan kelanjutan dari kerajaan Mataram dan Majapahit. Ia mengaku dirinya masih merupakan keturunan dari kedua kerajaan yang berjaya di abad ke 7 dan 8 masehi itu.

Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santoso dan Sang Ratu, Fanni Aminadia
Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santoso dan Sang Ratu, Fanni Aminadia(Dok Kompas)

Nah cukup aneh rasanya di bangsa yang modern ini tiba-tiba muncul kerajaan baru. Kerajaan baru itu mengaku memiliki keterkaitan dengan kerajaan masa lalu. Sedangkan pada masa pra kemerdekaan, kerajaan dan kekeratonan di nusantara telah bersepakat bergabung dengan NKRI. Serta menyerahkan segala urusan pemerintahan di tangan presiden Soekarno kala itu. Tapi kenapa hadirnya KAS seolah menggugat sejarah itu sendiri? ada motif apa sehingga spekulasi tentang kerajaan nusantara jadi jualan KAS?

Tanggapan dari Forum Silaturahmi Keraton Nusantara

Menurut pemberitaan di sejumlah media online, pihak Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) juga memberikan tanggapannya terkait hal ini. FSKN sendiri merupakan wadah yang dibentuk oleh 200 kerajaan dan kekeratonan nusantara yang pernah eksis dimasa lalu. FKSN dibentuk untuk menjaga warisan leluhur dan cagar budaya peninggalan kerajaan. Ketua FSKN Arief Natadiningrat mengaku kaget seiring dengan perkembangan negara Indonesia masih ada orang yang berani mendirikan keraton hingga mengklaim keturunan Majapahit. Menurut Arief KAS tidak pernah terdaftar sebagai bagian dari kekeratonan nusantara karena memang faktanya KAS tidak memiliki asal usul yang jelas atau kerajaannya hanyalah fiktif belaka.

Seminggu lebih kehadiran Keraton Agung Sejagat (KAS) membuat geger dan menjadi bahan pergunjingan banyak orang di Indonesia maupun warga net. Akhir dari KAS pun tamat setelah Raja dan Ratu kerajaan itu ditangkap aparat kepolisian pada Selasa 14 Januari 2020 karena dianggap meresahkan warga. Keraton pun akhirnya disegel untuk diperiksa beberapa barang bukti demi keperluan penyelidikan. Menurut laporan warga, adanya ritus dilakukan setiap malam. Kegiatan ini membuat bising dan bersumber dari dalam istana KAS. Warga yang tinggal di sekitar istana resah dan merasa terganggu dengan adanya ritual-ritual tersebut. Hal ini mengundang pemerintah wilayah untuk mengambil langkah hukum untuk mengadukan aktivitas KAS yang dinilai mengganggu ketentraman warganya kepada pihak berwajib.

Setelah beberapa hari diperiksa di Polda Jawa Tengah, Toto Santoso mengakui bahwa kerajaan KAS didirikan sebagai motif untuk menipu warga. Warga yang ingin menjadi pengikutnya diharuskan menyuruh membayar 2 sampai 3 juta rupiah. Dengan uang itu jugalah yang akan digunakan untuk membeli seragam pengawal serta tanda jasa sebagai atribut pengikutnya. Segala ornamen istana dihias sedemikian rupa untuk meyakinkan masyarakat bahwa kerajaan KAS merupakan peninggalan mataram majapahit dan Toto sendiri adalah keturunan kerajaan.

raja agung sejagat
Toto Santoso 42 tahun yang mengaku sebagai Raja Keraton Agung Sejagat ditangkap polisi Selasa 14 Januari 2020 petang. (Foto: Grup Facebook Pecinta Budaya Nusantara/Tagar/Ridwan Anshori)

Awal Permulan Peristiwa Ini

Sebenarnya permulaan kerajaan KAS terbentuk setelah ‘Ratu’ Fanni mengaku mendapat wangsit dan dipercaya menjadi penjaga perdamaian dunia. Berawal dari situ keduanya menggelar pengukuhan sebagai raja dan ratu di bawah guyuran embus es di Dieng pada juli 2019. Dengan menggunakan baju kebesarannya, Toto bersama pengikutnya menggelar pengukuhan dan doa bersama di kompleks Candi Arjuna di Dieng. Acara yang digelar tersebut dilaksanakan pada malam hari. Setelah melakukan berbagai jenis ritual dan mendeklarasikan KAS, esoknya Jumat 10 Januari 2020 mereka mengenalkan kehadiran Keraton Agung Sejagat. Dengan melakukan kirab bersama iring-iringan para pengikut dan penggawanya menggunakan kuda bak kerajaan-kerajaan sebagaimana mestinya.

Tapi akhir dari ‘halu’ (halusinasi) Fanni harus berujung bui, khayalan tentang KAS tidak lain hanyalah kedok untuk mendapatkan keuntungan semata. Hal itu diakui oleh Toto setelah diperiksa oleh kepolisian.

Dengan memanipulasi sejarah, mereka berhasil meyakinkan masyarakat awam menjadi abdinya dan rela berbuat apa saja demi kepentingan pelaku. Kita bisa belajar dari kasus tersebut betapa pentingnya memahami sejarah. Meskipun itu sejarah yang sebagian orang anggap tabu seperti kerajaan, mitos, dan kepercayaan-kepercayaan tradisi lainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *